Keluargaku KAMIL

Pejuang Pencari Cahaya Surga

Drainase Perkotaan June 16, 2010

Fungsi Drainase Perkotaan Secara Umum

  • Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.
  • Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya.
  • Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
  • Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).
  • Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.

Klasifikasi

  • Berdasarkan fungsi layanan :
  1. Sistem Drainase lokal

Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek permukiman, areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial. Sistem ini melayani areal kurang dari 10 ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi lainnya.

  1. Sistem Drainase Utama

Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota.

  1. Pengendalian Banjir (Flood Control)

Sungai yang melalui wilayah kota yang   berfungsi mengendalikan air sungai, sehingga tidak mengganggu dan dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pengelolaan pengendalian menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal SDA

  • Berdasarkan fisiknya:
  1. Sistem Saluran Primer

Adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluran primer adalah badan penerima air.

  1. Sistem Saluran Sekunder

Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan.

  1. Sistem Saluran Tersier

Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor  /PRT/M/2006)

Arah Kebijakan

  • Penyelenggaran/penanganan terpadu dengan sektor terkait terutama pengendalian banjir, air limbah dan sampah).
  • Mengoptimalkan sistem yang ada, disamping pembangunan baru.
  • Melakukan koordinasi dengan instansi terkait, dunia usaha dan masyarakat.
  • Mendorong Pemkab/Pemkot dalam pembangunan S&P drainase untuk melancarkan perekonomian regional dan nasional serta meningkatkan tenaga kerja.

Kebijakan 1

Penetapan keterpaduan penanganan pengendalian banjir dan sektor/subsektor terkait lainnya berdasarkan keseimbangan tata air.

Peningkatan aliran permukaan akibat perubahan tata guna lahan harus dikendalikan secara terpadu oleh instansi terkait (Kehutanan,Pertanian,Tata Ruang)

Strategi 1.

Penyiapan Rencana Induk Sistem Drainase yang terpadu antara sistem Drainase utama, lokal dengan pengaturan dan pengelolaan sungai.

Strategi 2.

Mengembangkan sitem drainase yang berwawasan lingkungan

Kebijakan 2

Mengoptimalkan Sistem yang ada, rehabilitasi/pemeliharaan, pengembangan dan pembangunan baru. Optimalisasi prasarana dan sarana sistem drainase yang ada perlu mendapat prioritas dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan (stake holders), baru ke tahap berikutnya pengembangan dan pembangunan baru.

Strategi 1

Pengembangan kapasitas operasi &pemeliharan sarana & prasarana Terbangun: Kejelasan tanggung jawab dan ketersediaan SOP.

Strategi 2

Menyiapkan prioritas optimalisasi system

Prioritas tertinggi: kawasan strategis,kawasan rawan penyakit dan kawasan rawan genangan, serta kawasan RSH/TNI/POLRI/PNS

Strategi 3

Mengembangkan kampanye peningkatan peran masyarakat

Upaya menyadarkan dan mendorong masyarakat dalam memelihara dan membersihkan lingkungan yang meliputi: operasi dan pemeliharaan saluran drainase serta konservasi sumber daya air

Kebijakan 3:

Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelola prasarana dan sarana drainase, swasta / dunia usaha dan peran serta masyarakat.

Kapasitas kelembagaan meliputi:

v bidang perencanaan dan koordinasi,

v operasi dan pemeliharaan,

v pelaksanaan dan pengendalian.

Strategi 1:

Peningkatan koordinasi antar instansi terkait: Lemahnya koordinasi antar dinas salah satu  penyebab menurunnya fungsi drainase yang ada.

Strategi 2:

Pengembangan kapasitas SDM. Peningkatan SDM yang menangani sistem drainase perkotaan.

Kebijakan 4:

Mendorong dan memfasilitasi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengembangan sistem drainase yang efektif, efisien dan berkelanjutan. Meningkatkan pelayanan publik, sosialisasi, kampanye publik dan pemberdayaan masyarakat.

Strategi 1:

Menyiapkan peraturan perundang Undangan.

Strategi 2:

Perkuatan institusi

Strategi 3:

Mengembangkan sumber pendanaan

Strategi 4:

Mendorong swasta/masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengelolaan dranase

Sasaran Kebijakan

  • Terbebasnya saluran drainase dari sampah (mengembalikan fungsi)
  • Berkurangnya wilayah genangan permanen dan temporer hingga 75% dari kondidi saat ini.
  • Tercapainya kualitas pelayanan yang sesuai atau melampaui standar pelayanan
  • Peningkatan kinerja institusi

PEMBANGUNAN SISTEM DRAINASE

Prinsip-prinsip Utama

  • Kapasitas sistem harus mencukupi, baik untuk melayani pengaliran air ke badan penerima air, maupun ntuk meresapkan air ke dalam tanah. Untuk mencapai kapasitas yang memadai dilakukan perencanaan berdasarkan prinsip hidrologi dan hidrolika.
  • Pembangunan sistem drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan usaha konservasi sumber daya air, yang pada prinsipnya menendalikan air hujan agar lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah sehingga mengurangi jumlah limpasan, antara lain dengan membuat bangunan resapan buatan, kolam retensi dan penataan lansekap
  • Sedapat mungkin menggunakan sistem gravitasi, hanya dalam hal sistem gravitasi tidak memungkinkan baru digunakan sistem pompa.
  • Meminimalisasi pembebasan lahan
  • Meminimalkan aliran permukaan dan memaksimalkan resapan
  • Letak sistem memenuhi kriteria perkotaan dan memiliki kesempatan untuk perluasan sistem. Dalam pelaksanaannya harus mempehatikan segi hydraulik dan tata letak dalam kaitannya dengan prasarana lainnya (jalan, dan utilitas kota).
  • Stabilitas sistem harus terjamin, baik dari segi struktural, keawetan sistem dan kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan.
  • Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota.
  • Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain : biaya konstruksi, biaya operasi dan biaya pemeliharaan

Parameter penentuan prioritas penanganan

Meliputi hal sebagai berikut :

a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan, dan lamanya genangan terjadi.

b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya.

Faktor Medan dan Lingkungan

  • Topografi: Pembangunan drainase pada daerah datar harus memperhatikan sistem pengaliran dan ketersediaan air penggelontor.
  • Kestabilan tanah: pembangunan di daerah lereng pegunungan harus memperhatikan masalah longsor yang disebabkan oleh kandungan air tanah.

Rencana Induk

Rencana Induk sistem drainase perkotaan adalah perencanaan menyeluruh sistem drainase pada suatu wilayah perkotaan, untuk perencanaan 25 tahun. Lingkupnya adalah sistem drainase utama saja yang berada dalam suatu daerah administrasi.

Studi Kelayakan

  • Perencanaan sistem drainase perkotaan satu atau lebih daerah pengaliran air untuk waktu 5 atau 10 tahun.
  • Lingkupnya diarahkan pada daerah prioritas yang telah ditentukan dalam rencana induk.
  • Kajian meliputi kelayakan teknik, kelayakan keuangan/sosial ekonomi, kelayaan kelembagan serta kelayakan lingkungan.

Perencanaan Teknik

  • Perencanaan teknis dibuat untuk daerah prioritas yang telah mempunyai studi kelayakan atau rencana kerangka (outline plan). Jangka waktu perencanaan untuk 2 sampai 5 tahun.
  • Rencana teknis harus membuat persyaratan teknis dan gambar teknis, kriteria perencanaan dan langkah-langkah konstruksi.

KESIMPULAN

  • Seiring dengan pesatnya pertumbuhan perkotaan dan  permasalahan banjir yang makin meningkat pula maka pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyelutruh dimulai dari tahap perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan yang ditunjang peningkatan kelembagaan dan partisipasi masyarakat perkotaan.
  • Pembangunan Sistem Drainase Perkotaan harus memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai prasarana kota yangdidasarkan pada konsep berwawasan lingkungan.
  • Konsep ini berkaitan dengan upaya konservasi sumber daya air yang pada prinsipnya adalah pengendalian air hujan dengan memaksimalkan peresapan ke dalam tanah dan meminimalkan aliran permukaan (limpasan).
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.